Ticker

6/recent/ticker-posts

Masa Kejayaan di Balik Lapak Majalah


Toko Slawi Raya ( Opini ) 

Aku masih ingat betul suasana jalanan pagi hari pasca-Mei 1998. Reformasi membawa angin perubahan yang begitu besar bagi negeri ini, dan entah bagaimana, media cetak ikut terkena pancaran sinarnya. 

Setiap hari, sejak usai subuh, aku sudah menyiapkan tumpukan koran dan majalah di lapak kecilku di depan telkom slawi. 


Waktu itu, halaman depan koran adalah magnet. Isu politik, kasus korupsi, dinamika parlemen, dan tokoh-tokoh reformasi—semua dicari orang.

Majalah pun laris manis. Dari yang membahas ekonomi, hukum, hingga gosip selebriti, semua punya pembacanya sendiri. 


Lapakku tak pernah sepi. Kadang harus rebutan stok, apalagi kalau headline-nya panas. Orang rela antre, berdiri di depan meja kayu kecil itu, menyodorkan uang sambil bertanya, "Yang terbaru udah dateng, Mas?"

Hari-hari itu adalah masa kejayaan media cetak. Informasi adalah kekuatan, dan aku—walau hanya pedagang kecil—merasa ikut menyebarkannya. Tiap lembar yang kuberikan ke tangan pembeli seperti menyambungkan mereka dengan dunia yang sedang berubah cepat. 

Lapakku jadi titik temu warga kampung, mahasiswa, pedagang, bahkan wartawan freelance. 

Kini zaman telah bergeser. Semua serba digital. Tapi kenangan akan lapak-lapak yang berjejer rapi, aroma tinta cetak yang masih hangat, dan suara gaduh para pembeli yang haus informasi, tetap hidup dalam ingatanku. 

Aku bangga, pernah menjadi bagian dari sejarah itu—penjual koran dan majalah di masa ketika lembar demi lembar kertas punya kuasa.

Suka dengan cerita diatas, silahkan di share  ( *** ) 

Posting Komentar

0 Komentar